Sunday, June 18, 2017

First Day in Tokyo


Somewhere in Shinjuku
Setelah tidur 5 jam, akhirnya kita (aku dan 2 anak AIESEC, Hiro sama Hashi) bangun. Kami tidur di bangku tempat hall kedatangan di Haneda. Rencana kita pagi itu adalah nyari SIM, dan ambil kunci kos di kantor Sakura House.

Pertama kita pergi ke BIC CAMERA buat nyari SIM card. Best deal yang bisa kita dapet adalah perdana Docomo 5 GB buat masa berlaku 3 minggu. Daaaan, harganya 3477 yen = ~416 ribu IDR. Ini harga paling bagus yang bisa kita dapet karena yang lain jauh lebih mahal lagi. Aku akhirnya ambil 2 paket data ini soalnya bakal di Jepang 6 minggu.

Setelah berhasil masang SIM card yang susah payah dipasang karena banyak setting yang perlu diubah, termasuk setting APN, dan registrasi macam-macam. Akhirnya kita keluar dari bandara. Kita bakal pergi ke kantor Sakura House di Shinjuku buat ambil kunci kos-kosan sekaligus registrasi awal. Oiya, kita berangkat dalam keadaan koper 22 kg yang kubawa rusak berat. Roda hilang satu. Jadi harus diangkat kalo mau jalan. Ini jelas merepotkan. Kita bertiga gantian ngangkat koper berat sialan ini.

Karcis JR Pass
Kita bakal naik kereta api lokal buat ke Shinjuku. Tanpa perlu ragu bisa kita katakan sistem transportasi di Tokyo bener-bener impresif! Kamu literally bisa ke manapun dari manapun pake kereta, dan harganya cukup murah dibanding transportasi lain. Setiap tempat di Tokyo, pasti ada stasiun terdekat yang bisa dicapai dengan jalan kaki kurang dari km. Keretanya pun sangat-sangat akurat dan tepat waktu. Bersih. Bagus. Tepat waktu. Alhasil, karena semua orang pake kereta, jalanan pun sepi dan ga macet. Walaupun Tokyo punya populasi yang sangat padat (sekitar 6000 orang per km persegi), tapi jalanannya sama sekali nggak crowded. Cuma sedikit mobil yang lewat, kadang motor. Beberapa truk gede pembuang sampah, taksi, atau bus. Ini gak kayak Ban*dung atau Jakar*ta yang penuh motor Jepang (Honda, Suzuki, Shogun) di jalan-jalan di mana-mana padahal di Jepangnya sendiri terutama Tokyo jarang bisa dilihat ada motor keliaran.

Shinjuku
Hashi-san bilang, sistem kereta api ini dibangun setelah bangunan di kota Tokyo jadi. Oleh karena itu, kebanyakan kereta api rutenya ditaruh di bawah tanah. Ini make sense karena kalo kita masuk ke stasiun, biasanya kita bakal turun tangga dari permukaan jalan raya biasa. Akan ada banyak banget rute kereta yang saling melintas. Bagusnya adalah, di stasiun bisa ada beberapa kereta yang melintas di bawah tanah di kedalaman yang berbeda. Ini mengakibatkan nggak perlu ada simpangan 2 atau lebih kereta yang berbeda. Hashi bilang, kedalaman stasiun bisa dalem sekali. Contohnya stasiun Shinagawa bisa sampe sedalam 120 m kalo diukur dari permukaan tanah.

Kita naik kereta JR, Keikyu Line buat berangkat dari Haneda ke stasiun Shinagawa. Abis itu kita oper ke Yamanote Line buat ke stasiun Shinjuku. Cara beli tiket kereta pun maju sekali, kita harus beli di mesin yang terima seluruh pecahan uang kertas atau koin, trus kita terima kertas karcisnya langsung. Kalo ada kembalian, otomatis kembalinnya juga keluar. Semua serba mudah, serba cepat.

Hiro-san bilang, Yamanote Line ini rute paling terkenal di Tokyo. Ini karena 29 dari 31 stasiun yang dilewati Yamanote adalah stasiun tempat oper dengan rute Line lain. Ini juga karena Yamanote punya rute di tengah kota Tokyo, satu-satunya rute kereta yang berbentuk lingkaran, jadi ada 2 tipe Yamanote (clockwise/anti-clockwise). Dia juga bilang, stasiun Shinjuku adalah stasiun terbesar di dunia, parameter terbesar ini adalah dalam hal jumlah kereta yang transit setiap harinya. Sementara itu, stasiun Tokyo yang paling sibuk, dalam hal jumlah penumpang yang lalu-lalang tiap hari, sekitar 500 ribu penumpang keluar dan masuk dari stasiun Tokyo tiap harinya. Di stasiun Shinagawa, kita papasan dengan Shinkansen (kereta peluru) yang kenceng parah dan bentuknya lucuk. Tapi karena Shinkansen mau masuk Shinagawa station, jadi dia ga maksimum speed.

Shinkansen ini luar biasa. Tokyo-Osaka yang perlu 15 jam pake kereta lokal biasa, pake Shinkansen cuma butuh 1,5 jam. Tapi memang harga Shinkansen jauh lebih mahal kereta biasa.

Sampe di stasiun Shinjuku, kita pergi kantor Sakura House jalan kaki kira-kira 15 menit. Kita bawa koper yang HARUS diangkat karena begitu sampai di stasiun Shinjuku kedua roda patah dan hilang entah kemana. Sebenarnya jarak antara kantor dan stasiun Shinjuku cuma 750 m, tapi berasa jauh karena kita super capek. Dan dalam keadaan puasa. Dobel lelahnya.

Sampai di Sakura House aku disuruh isi banyak formulir dan tanda tangan perjanjian di mana-mana. Petugas menawarkan minum teh, dan kuminum. Pada saat itu, aku berpikir batal puasa aja, toh masih kehitung safar karena memang benar-benar dalam perjalanan. Setelah urusan dengan Sakura House selesai, aku dapat kunci kos dan kita pergi dari kantor tsb.

Jalan kaki kembali ke stasiun Shinjuku trus pergi ke kos-kosan di daerah Yoyogi-Uehara sangat tidak memungkinkan karena kita perlu jalan ke stasiun Shinjuku bawa koper yang harus diangkat, juga dari stasiun Yoyogi-Uehara ke kosan. Jarak kantor Sakura House ke kosan cuma 3,4 km sebenarnya. Maka dari itu kita coba naik taksi.

Setelah kita naik, aku baru tahu bahwa taksi di Tokyo MAHAL PARAH. Naik 3,4 km, kita habis 1930 yen = ~230 ribu IDR. Bandingkan dengan harga taksi Bluebird di Surabaya dari Kedinding ke Juanda yang cuma 150 ribu dan itu sejauh 25 km. Aku baru tau taksi adalah barang mewah di Jepang. Aku, Hiro, sama Hashi bagi ongkos taksi ini jadi 3 sama rata. Dan kita sepakat. Ini lebih baik daripada kita angkat-angkat koper 25 gantian. Kenapa ga Uber? Uber nyatanya jauh lebih mahal, sekitar 2500-3000 yen.

Sampai di rumah, kita duduk-duduk sebentar di ruang tengah. Hiro-san minta aku ngisi beberapa form dan menjawab beberapa pertanyaan buat dokumentasi AIESEC in Japan. Hashi-san belajar bahasa Spanyol, dia lagi getol belajar Spanyol soalnya suka bola.

Aku dapet sekamar sama orang Mesir. Oh iya, di sini kosan untuk Muslim. Sebagian besar wajah Timur Tengah, ada yang dari Afrika, ada yang Pakistan. Roommate-ku orang Mesir tulen, 33 tahun, udah di Jepang 4 tahun, kerja. Kita sempet ngomong Bahasa Arab dikit. Tapi berhenti karena kosakataku terlalu dikit.

Kosan ini benar-benar suasanya internasional. Kadang kedengar orang bicara Prancis faseh di ruang tengah, kadang ada teriakan Bahasa Arab, kadang ada orang telpon pake Mesir pasaran. Inggris juga nggak jarang. Kadang orang ngobrol pake Jepang. Lucu rasanya tinggal di sini.

Setelah urusan form kita selesai di kosan sekitar jam 11 siang, kita perlu ngeprint beberapa dokumen. Kita ke FamilyMart buat ngeprint. Abis itu, aku, Hashi, Hiro makan Udon di deket stasiun Yoyogi-Uehara. Enak parah, porsi besar.

Setelah makan, Hashi harus balik ke rumah karena ada acara jam 6 malem. Dia harus ganti baju dan persiapan dll. Hiro sama aku balik ke Sakura House ambil pasporku buat difotokopi. Setelah ambil paspor, kita balik ke FamilyMart buat fotokopi, trus urusan selesai! Hiro balik ke rumah lewat stasiun Yoyogi Uehara. Oiya, jarak stasiun ke kosan Sakura House cuma sekitar 200 meter. Ngesot pun sampe.

Habis mereka pulang, aku keliling daerah Yoyogi-Uehara, termasuk ke Camii Mosque, masjid bercorak Turki. Masjid ini masjid terbesar di Jepang. Masjidnya besar, gaya arsitekturnya Turki banget. Banyak pengunjung non-muslim yang bebas boleh masuk ke dalam masjid buat sekedar foto-foto atau lihat-lihat atau tour guiding yang sediakan dalam bahasa Jepang. Banyak wajah Jepang jadi pengunjung masjid ini. Lucu rasanya lihat mbak-mbak Jepang pake semi-jilbab masuk ke masjid, subhanallah. Ada buka bersama gratis di Masjid Jami', disediakan makanan Turki.

Yoyogi Uehara station

Simpangan deket stasiun


Turkey x Japan flag

Turkish architecture in Tokyo Camii Mosque, Japan

Tokyo Camii Mosque visitor guide

Ada hal menarik. Gimana aku beli shampoo di toko full bahasa Jepang padahal banyak botol cairan dan nggak ngerti Jepang sama sekali.


Benda ini perlu dicek shampoo atau bukan. Jangan sampe salah beli dan ternyata deterjen cair.

Scan pake google translate camera didapat:


Ada kata "hair", maka ini pasti shampoo :))) Dan ternyata bener emang shampoo setelah dipake.

Setelah puas keliling, aku balik ke kos dan langsung tepar. Bangun-bangun, sudah maghrib dan aku mau tarawih di Tokyo Camii Mosque. Solat tarawihnya bisa pilih 11 bisa 23 rakat, Imamnya orang Turki,








Related Articles

0 comment:

Post a Comment