Thursday, July 13, 2017

University of Tokyo and that Famous Ichiran Ramen


Hari kerja! Hari ini aku presentasi ke CEO, Murayama-san bahwa intern project-ku sudah kelar. Aku jelasin semua gimana apply machine learning di problem ini. Kemudian dikasih tugas tambahan (rahasia, NDA). Tapi harus nunggu setup yang diperlukan buat mengerjakan tugas tambahan ini.

Setelah itu aku ke University of Tokyo, kampus Komaba. Ternyata kampus uTokyo ada banyak. Dan yang paling terkenal adalah yang di Hongo, dia punya pintu gerbang masuk yang sangat bagus dan terkenal itu. Kampus Komaba yang aku datangi ini buat anak-anak tingkat 1 dan tingkat 2. Anak-anak uTokyo belum dapet jurusan di tingkat 1 dan tingkat 2 (masih TPB). Kampusnya luas, banyak orang lalu-lalang. Ga ada bedanya lah ama ITB. Pejalan kaki banyak. Kampusnya luas juga.

Stasiun Todai cabang Komaba! 

Kalo nggak backlight, sumpah foto ini bagus.
Suasananya teduh dan mengharukan gitu. Bentuk jalannya kayak di doraemon-doraemon.




Gerbang masuk Todai

Jalan dari stasiun ke gerbang

Actually tulisan aslinya adalah: "sepeda cuma boleh sampe sini".
Gak keren sama sekali.
Tapi karena ada logo uTokyo-nya jadi foto aja dulu deh.
Di Todai kita ada diskusi bareng temen-temen AIESEC. Kita diskusi banyak terutama soal programming, machine learning, imbasnya terhadap masa depan. Kita juga diskusi seputar gimana pengaruh programming terhadap ekonomi. Juga apa kaitan programming sama art (ini susah sih diomongin). Aku ketemu Theo, anak Todai angkatan 2017 dari Lampung yang dulunya sempet di ITB masuk tahun 2015 selama 8 bulan, trus cabut ke Jepang karena dapet beasiswa Monbu. Dia dateng ke Jepang April 2016, tapi ga langsung masuk kuliah, tapi les bahasa Jepang dulu setahun. Dalam setahun aja bahasa Jepangnya udah lancar parah. Inggrisnya juga Hebat emang.

Setelah diskusi bareng AIESEC di salah satu ruang mirip CC Barat (aku cukup yakin itu Student Center gitu deh soalnya ada anak-anak latihan musik juga), kita bubar. Aku, Theo, sama Matsufuji makan di Ichiran Ramen di Shimo-Kitazawa. Mantap parah. Ini kataku lebih enak dan pas daripada Ippudo Ramen. Asal Ichiran Ramen sama Ippudo Ramen sama-sama dari Fukuoka, kata Matsufuji, which is tempat di mana dia berasal.

Berbilik-bilik. Selama ini cuma lihat Ichiran Ramen dari layar.
Sekarang makan langsung.

Ichiran Ramen. Mantap. Kuahnya sangat, pas.

Entah apa tujuannya ada tirai. Untuk mengurangi interaksi antar penjual/pembeli (?)
Di warung ramen ini, kita ngobrol banyak hal, udah kayak di warung kopi di Indo. Mulai dari kegelisahan Indonesia yang gak maju-maju, self-management (yang kita sepakat ada 8-hour rule), transportasi, geografi, ngobrolin kuliah dan bedanya pelajaran di Indo dan di Jepang. Seru! Aku belajar banyak hal dari mereka, termasuk fakta bahwa anak ITB lebih ambis daripada anak Todai walaupun lebih pinter anak Todai.

Diskusi ini all conducted in English karena cuma bahasa itu yang kita bertiga sama-sama mengerti.

Kita sepakat dengan 8-hour rule. Maksudnya dalam 8 jam sehari kita kerjakan hal yang semestinya kita kerjakan secara wajib. Ngerjain tugas kuliah. Masuk kelas. Ngerjain kerjaan kantor. Kemudian setelah di luar 8 jam itu, kita ga boleh lagi ngerjain kerjaan wajib, bisa ngerjain kerjaan sampingan yang buat self improvement kita sendiri. Misal pengen belajar bahasa baru, atau ngelatih skill baru (programming), atau latihan main musik, atau apapun asal di luar kerjaan wajib. 

Setelah itu, kita bubar ke rumah masing-masing. Good bye!

This blog post is supposed to be posted at July 10, 2017.

Related Articles

1 comment:

  1. wait, emangnya ichiran ramen ada versi yg halal/ga campur pork?

    ReplyDelete