Wednesday, February 01, 2012

Bukan Karena Cinta



Aceh, 26 Desember 2004
Langit cerah. Angin bertiup pelan seiring melambainya rimbunan daun pohon kelapa di pantai Lhoknga. Ombak-ombak berkejaran, berlomba-lomba mendahului hingga ke tepian pantai. Matahari di ufuk timur menambah indahnya kemilauan buih-buih pantaiku ini.

Aku Tonga. Umur 35 tahun. Aku sudah lama sekali hidup di sini, di sekitar wilayah ini. Keseharianku... yah, mencari ikan. Meski hasilnya tak seberapa, tapi aku sudah sangat bersyukur bisa menghidupi diriku sendiri yang hanya sebatang kara ini. Aku masih ingat ketika dulu masih sekolah, aku dididik bahwa tingkat kemakmuran bukan dinilai berdasarkan besarnya kecilnya pendapatan seseorang, tetapi dilihat dari kemampuan untuk memenuhi kebutuhan.

Aku masuk rumah, yang berjarak tidak sampai 100 m dari pantaiku. Hari ini aku tidak melaut. Kemarin ramalan cuaca BMG Banda Aceh di bmgaceh.go.id mengatakan bahwa hari ini akan turun hujan disertai petir-petir. Entahlah, tidak sesuai sekali dengan saat ini.

Kubuka laptopku. Oh ya, laptop pinjamanku. Laptop ini pinjaman dari Pak Jamal tetangga sebelah karena aku pernah membantunya mencari kacamata di kamar mandi. Tak hanya itu, rumah gubukku yang sudah miring 14 derajat ini dipasangi wi-fi olehnya. Alhamdulillah, terharu sekali rasanya jika teringat kata-katanya ketika itu. Baik sekali dia.

Kubuka email. Tak ada yang masuk. Kubuka google.com, mencari tahu tentang lowongan kerja di Banda Aceh. Barangkali saja ada. Oh, setelah kucari lama, belum ada rupanya. Ya sudah lah.

Aku melongok ke jendela luar mencari sedikit hirupan nafas segar. Fantastis! Air laut surut jauh sekali. Ikan-ikan menggelepar bertaburan tak beraturan bak titik-titik hujan di daratan. Dengan cekatan aku segera mengambil ember biru kecilku di depan rumah dan berlari menuju pantai secepat mungkin layaknya sprinter kelas dunia yang dikejar anjing. Tanpa basa-basi kumasukkan ikan-ikan itu ke dalam ember mungilku. Karena tak sedikit juga rupanya para tetangga yang melakukan hal serupa. Teriakan-teriakan syukur menggema di telingaku. Sebagian ada yang bersujud ke barat yanag kebetulan menghadap ke pantai. Tapi... tapi... itu... itu...

“Gelombang besar!!!” aku berteriak. Aku yakin aku yang pertama kali melihat gelombang itu. Suaranya bergemuruh. Sambil sprint menjauhi gelombang sepuluh meteran itu, kulihat sekilas manusia berlarian ke arah yang sama denganku. Kocar-kacir.

Gelombang itu semakin dekat, dekat, dan dekat. Takbir di mana-mana. Aku masih berlari. Sekuat tenaga kucoba menghindari kejaran gelombang tinggi yang kulihat 3 detik lalu. Aku teringat rumahku, laptopku, eh... laptop Pak Jamal. Tapi tak kuhiraukan. Nyawa lebih penting dan paling penting.

“Allahu akbar!” pekikku.

Punggungku sakit dihantam gelombang itu. Aku di air. Ya, di dalam air. Kucoba menghirup nafas. Sulit sekali. Malahan menghirup air. Arus air masih sangat terasa di punggungku, kepalaku, kakiku, tanganku. Dadaku sesak. Sesak sekali. Aku tak tahu harus apa. Dalam hati kuucapkan berulang-ulang kalimat Allah dan Allah. Aku hanyut. Terombang-ambing dalam derasnya tekanan air dari belakang punggung.

Gelap.


Medan, 4 Oktober 1999
“Good afternoon. Welcome to Polonia Airport, Medan.”

“Thank you so much. This is Mr. Tonga the pilot, and Mr. Ramdan, co-pilot. We’re from Singapore International Airport. Flight code siy-ef-thri-thri-wan-thri (CF-3313, red).”

Ini penerbangan komersial pertamaku setelah perjuangan bertahun-tahun di Miami Flight Foundation. Sekaranglah saatnya aku resmi bertugas di kabin pesawat.

“Turn down to 3000 ft.”

“Yes, thank’s.”
Aku mendorong pedal controller perlahan-lahan hingga high display menunjukkan angka tiga ribu. Fiuh... sudah. Lega rasanya.

“Mmm... report. The look distance is about 2.5 km. How will we do?”

“Well, turn left at 0,35o!”

“Turn down to 1000 ft!”

“Then prepare to take a landing position.”

“Pardon me?” kataku. Suara berat itu terlalu cepat memberi intrupsi.

“Turn left 0,35o and turn down to 1000 ft. Then take a landing position.”

“Sure,” aku mengiyakan saja. Kusuruh Ramdan mengumumkan berita pendaratan pada penumpang, kemudian kuubah jalur dan arah pesawat sesuai perintah petugas ATC tadi.

“CF-3313? To 1000 ft!”

“Okay, sir,” aku menjawab.

“CF-3313?”

“CF-3...1...?”

Wah! Gawat! Komunikasi kami putus entah kenapa. Kutekan-tekan tombol refresh di side speaker tapi hasilnya tetap nihil. Oh, tidak!

Dengan terpaksa aku mencoba melakukan landing tanpa instruksi apapun di penerbangan pertamaku ini. Sekaranglah saatnya tiba. Landasan pacu sudah berada kira-kira 2 km di depanku. Semua sudah kupersiapkan. Arah pesawat sudah tepat lurus dengan landasan pacu. Kuturunkan ketinggian pesawat pelan, dan pelan.

JDAAKK!!

Roda pesawat sudah menyentuh tanah. Tapi, trouble! Pesawat ini melebar 1 km dari lokasi pendaratan semestinya. Kutarik pedal rem sekuat-kuatnya supaya pesawat berhenti. Semua penumpang berteriak.

GUBRAKK!!!

Pesawat menggelincir keluar lintasan. Menabrak apa saja yang ditabraknya. Sawah, toko, kantor, rumah, semua jadi sasaran. Termasuk rumahku sendiri yang berada di dekat bandara. Aku merinding. Berpegangan erat pada controller sambil menarik pedal rem dalam-dalam. Ramdan terlempar ke depan, pingsan.

BRAKK!!


Medan, 5 Oktober 1999
Perih. Aku terbangun dari pingsan panjangku di dalam timbunan rongsokan pesawat. Mencoba mencari celah ‘tuk keluar. Aku berjalan hingga ke sebuah perkampungan dan melihat siaran berita di televisi.

“MedanTV  - Sebuah pesawat milik maskapai Singapura tujuan Medan tergelincir di bandara Polonia. Korban 12 orang meninggal, 35 orang luka-luka, dan 2 orang belum teridentifikasi. Termasuk di antara korban meninggal, putra petinggi POLRI. Semua awak pesawat ditemukan tewas, kecuali seorang pilot masih dalam tahap pencarian polisi. Kejadian naas ini diduga akibat kelalaian pilot dalam navigasi.”

Mataku terbelalak tak percaya. Statusku sekarang BURON POLISI. Rumah hancur, harta hancur, istri tewas, lengkaplah sudah. Kini aku tak punya apa-apa yang bisa diandalkan. Lebih baik aku lekas pergi dari tempat ini. Menuju daerah lain. Taubat. Ya, taubat. Kembali ke jalan-Nya. Kuambil arah kiblat sebagai tujuan rantauanku. Entahlah apa yang terjadi lima tahun ke depan.

Menggelandang.

* cerpen jelek ini ditulis pas lagi jaman-jamannya gue kelas 3 SMP. sebenernya ini cerpen ditulis buat disetorin ke redaksi majalah sekolah, tapi gara-gara saking jeleknya akhirnya ditolak. gue masukin aja di blog aneh ini

Related Articles

0 comment:

Post a Comment