Friday, February 10, 2012

Sebuah Mata untuk Selamanya


Ini namanya cerpen nde..

Dulu kala ada anak namanya Hadi (bukan nama sebenarnya). Anak ini tinggal sama ibunya berdua di rumah. Rumahnya ini gubug, bisa dikatakan buruk lah. Kondisi ekonomi keluarga Hadi bisa dibilang pas-pasan.

Hadi ini masih kelas 2 SD. Tapi dia mesti malu kalo berangkat sekolah dianter ibunya soalnya ibunya ini menderita cacat di matanya. Hadi malu punya ibu yang buta sebelah. Astaghfirullah. Tapi ibu ini tetep sabar. Dia tetep sayang sama anaknya walaupun si anak malu sama ibunya.

Waktu pun berlalu, anak ini udah duduk di bangku SMA. Hadi ini sekolah di tempat yang gak jauh jauh banget dari rumahnya.

Suatu waktu ada kegiatan belajar kelompok dari guru fisikanya. Kebetulan temen-temen Hadi ini minta belajar di rumah Hadi, karena hanya rumah Hadilah yang belum dapet giliran belajar kelompok.

"Jangan ah, jangan di rumahku. Rumahku sempit, gak bakal muat diisi kamu semuanya," Hadi nolak.

"Ah, gak papa. Lagian Rudi, Vina, Deni, Thomas, sama Elfira gak dateng. Mereka mau latihan basket intensif," kata Afi.

"Ng.. jangan di rumahku. Rumahku gak muat buat belajar kelompok," Hadi nolak lagi.

"Yaudah."

Lagi-lagi sifat Hadi ini gak berubah, dia sengaja berbohong biar temennya nggak tahu soal ibunya yang cacat mata.

Dua tahun kemudian..

Inilah saatnya Hadi lulus dari SMA-nya. Dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kota dengan sambilan usaha seadanya. Ibunya yang hanya berjualan makanan di tetangganya kurang mampu membiayai Hadi. Tapi Hadi nekat ingin melanjutkan studinya.


Di kota Hadi pun hidup hemat, mengeluarkan uang seadanya. Kuliah disambi dengan berjualan buku-buku ringkasan SMP dan SMA dengan modal pinjaman dari temannya. Bila sedang liburan, Hadi menyempatkan kerja fisik menjadi kuli bangunan atau kuli angkat stasiun dan sebagainya. 

Yang penting menghasilkan uang, pikirnya.

Sepuluh tahun kemudian..

Hadi beranjak menjadi kaya raya. Usai kuliah dengan IP yang memuaskan, dia dilirik oleh perusahaan ternama di kotanya. Karirnya menanjak dengan mulus. Di samping itu, usahanya sukses, hingga ia memiliki percetakan besar di kota dengan berbagai cabang yang menyebar di Jawa.

Kini ia pun telah berkeluarga. Ia memiliki seorang istri yang cantik beserta dua anak kecil perempuan yang cantik-cantik dan lucu-lucu.

Tak hanya itu, ia pun membeli rumah besar di kawasan elite kota. Ia juga membeli mobil Civic keluaran terbaru. Hadi hidup bahagia.

Tapi dia tidak pernah mengontak ibunya.

Ibunya kini telah tua. Wajahnya keriput termakan usia. Ibunya sudah lama sakit-sakitan. Tak ada lagi yang menemaninya di rumahnya di desa. Dia hidup sendiri. Dia hanya berharap Hadi kembali ke rumahnya dan pulang dengan membawa muka yang merona bahagia. Ibunya hanya ingin melihat wajah Hadi yang berubah menjadi dewasa. Namun Hadi tak pernah memberi kabar.

Di suatu hari ibu Hadi ingin sekali menemui anaknya. Walaupun punggungnya sudah bungkuk. Matanya cacat sebelah. Namun rasa kangen ibunya mengalahkan segalanya. Keinginan bertemu Hadi sang anak tercinta sudah di ujung tanduk. Ibunya pun nekat menyusul Hadi ke kota.

Bermodalkan info dari SMA tempat Hadi sekolah dahulu, ibu pun berangkat menuju kota. Dengan ditemani uang ala kadarnya serta baju lusuh yang menempel di tubuh.

Ibu Hadi pun tiba di kantor tempat anaknya bekerja. Dari sana ia mendapatkan alamat rumah yang ditinggali Hadi saat ini.

Ibu Hadi menuju alamat yang dipegangnya.

Di jalan perumahan tempat Hadi tinggal, ibu tersebut mondar-mandir mencari alamat. Sampai di suatu rumah ia melihat seorang perempuan muda cantik ditemani dua anaknya yang lucu-lucu keluar dari mobil Civic. Tak jauh darinya ada seorang laki-laki gagah yang berdiri menutup pintu mobil. Melihat dari kejauhan, ibu Hadi pun yakin itu adalah anaknya, Hadi.

Dengan tekad yang kuat ditambah rasa rindu yang sangat mendalam kepada anak tunggalnya Hadi Wibowo, ibu ini mendapatkan kembali semangatnya setelah berjalan seharian untuk menuju ke rumah di mana anaknya tinggal. Ibu tersebut sangat yakin laki-laki tadi adalah anaknya. Ia masih ingat dengan lekat raut muka wajah anaknya.

Setelah membaca bismillah, ibu tersebut mengetuk pntu gerbang rumah Hadi.

Pintu diketuk berkali-kali, tapi belum ada jawaban.

Pintu diketuk lagi, dan akhirnya ada dua anak kecil-kecil yang lucu-lucu membukakan pintu gerbang.

"AAAAAAAAAAAAAA!!!! Monsteerrr!!!" Seketika anak kecil tersebut lari masuk kembali ke dalam rumahnya.

Anak kecil tersebut tidak lain adalah anak perempuan Hadi. Ibu tua tersebut pun bersabar dan memaklumi. Anak kecil belum tahu apa-apa.

Mendengar anaknya berteriak Hadi dan istrinya langsung menuju ke pintu gerbang tempat anaknya berteriak.

"Ada keperluan apa ibu di sini?" Hadi berkata dengan ramah.

"Aku mencari anakku," ibu tua berkata.

"Anak ibu tidak ada di sini."

"Tapi aku mencari anakku."

"Ini rumahku, dan aku tinggal di sini bersama keluargaku. Anakmu tidak di sini."

"Aku mencarimu. Ingatkah engkau pada Ibu, Nak?"

"Maaf, ibu salah. Ibuku masih muda. Dia tinggal di desa. Ibuku tidak tua seperti Anda. Masih banyak Hadi yang lain di kota ini."

"Sungguhkah? Aku ingat dengan yakin kaulah anakku. Kau mirip sekali dengan Hadi yang SMA dulu."

"Maaf, mungkin ibu salah alamat. Kalau ibu butuh uang, saya akan memberi."

"KAULAH ANAKKU, HADI. APA KAU TELAH LUPA PADA IBUMU?" ibunya berkata dengan mata sebelah setengah menangis, dan setengah buta karena cacat.

"Andalah yang salah ibu tua, ini silakan ada sesuatu untukmu. Aku tahu anda pasti membutuhkan uang."

Dengan sangat kecewa ibu Hadi meninggalkan rumah tersebut. Bertahun-tahun ditinggal anaknya namun ketika bertemu malah ditolak begitu saja. Mana mungkin anak yang selama ini sangat dicintainya bisa melupakan dirinya.

Tak terbayangkan bagaimana perasaan ibu Hadi saat ini. Sedih, bahagia, kesal, haru, bercampur aduk. Bahagia karena anaknya telah hidup sukses. Sedih karena anaknya tidak ingat dengan dirinya. Anak semata wayangnya yang dulu masih muda, kini telah dewasa.

Ibu tua pun pulang ke desa naik bus lama yang sama. Tak terasa baginya letih, lapar, capai, segala keluhan lainnya. Kini di pikirannya hanya ada gundah mengapa anaknya lupa kepadanya. 

Ibu Hadi tiba di rumah.

Suatu hari, Hadi mendapat sms dari teman lamanya berisi undangan reuni SMA-nya di desa. Setelah memastikan tak ada jadwal meeting dengan client perusahaan lain, dan agenda super padat lainnya, Hadi memutuskan menghadiri reuni tersebut. Sekalian menengok keadaan ibunya, begitulah pikirnya.

Alkisah Hadi telah melewati acara reuni. Ia bertemu dengan Elfira yang ternyata menikah dengan Afi. Vina yang menjadi pejabat tinggi di kabinet negara. Dan teman-teman yang lain.

Kini ia menuju ke rumah gubug ibunya.

Mobil Hadi perlahan mengerem di pinggiran gang di dekat gubug tersebut berada. Terlihat gubug yang masih sama seperti dulu. Tua. Beratapkan seng. Tersusun dari kayu-kayu tua lapuk hitam yang tak kenal usia kehidupan.

Ia pun makin semangat menuju rumah tersebut.

Maka sampailah Hadi di pintu gubug tersebut.

Diketoknya pintu.

Tak ada jawaban.

Diketok sekali lagi.

Tak ada respon.

Diketok lagi.

Tak ada jawaban.

Hadi kecewa. Di manakah ibuku? Apa kabarnya? Bagaimana kondisinya? Ia berpikir apakah dia akan pulang dengan tangan hampa.

Sebelum masuk ke dalam Civicnya Hadi melihat seseorang perempuan tua yang ia yakini adalah tetangga ibunya. Ia pun menghampiri perempuan tua tersebut.

"Bu, tahukah ibu orang yang dahulu tinggal di gubug ini?"

"Oh, Bu Warsini? Beliau baru tiga hari yang lalu meninggal."

"Oh begitu ya Bu. Kalau begitu terima kasih."

Tak disangka Hadi begitu cepatnya ibunya meninggal. Ia jadi kecewa mengapa dahulu ia menyia-nyiakannya. Kini ibunya tlah tiada. Tak ada lagi kerabat yang bisa dikunjunginya.

Hadi masuk ke dalam mobil, dan mulai menyalakan starter.

"Eh mas mas, tunggu dulu tunggu dulu.."

Hadi melihat perempuan tua tersebut tertatih-tatih membawa selembar amplop kuning. Ia pun mematikan mobilnya dan keluar menyambut perempuan tersebut.

"Ada apa, Bu?"

"Ini ada surat dari Bu Warsini. Ini ia titipkan sebelum dia meninggal. Katanya kalau ada laki-laki muda yang mencarinya, surat ini buatnya."

"Oh, terima kasih Bu." Hadi menjawab.

Setelah itu Hadi masuk mobil dan membuka surat tersebut.

Mau tahu isi surat wasiat tersebut?
Nantikan di post selanjutnya..

Related Articles

0 comment:

Post a Comment